Header Ads

Header ADS

[Opini] Elon Musk yang Out of The Box, dan Tesla yang Progresif


Ini adalah opini gue pribadi, kalau ada yang perlu ditambahkan, tidak setuju, ada data baru atau ada data yang lain bisa komen di bawah.

Menurut beberapa sumber yang gue baca, untuk menjadi sukses seperti Elon Musk, ada beberapa hal yang harus dilakukan. Elon Musk adalah seorang jenius yang bisa diibaratkan "Steve Jobs"-nya Tesla. Gue disini tulis 2 aja, lainnya bisa ditambahkan sendiri.

Pertama, ga boleh belajar hanya satu bidang. Meskipun pada akhirnya Elon Musk tidak bisa menguasai semua bidang, dalam arti tidak akan mampu membangun roket dari 0 % sampai 100% sendirian, atau tidak akan bisa memproduksi Tesla dari awal sampai jadi tanpa bantuan engineer-nya, tapi pengetahuannnya yang banyak mengenai berbagai bidang tsb mengantarkan Tesla dan SpaceX berkembang seperti sekarang. Overview singkat beberapa bidang yang dikuasai Elon Musk,
  • Elon Musk belajar mengenai internet dan website, lalu mendirikan perusahaan Zip2 yang bergerak dalam bidang pengembangan software web
  • Elon Musk mempelajari tentang finansial, ditambah ilmu mengenai internet dan dunia digital, lalu mendirikan perusahaan keduanya yang bernama Paypal, salah satu platform pembayaran internasional terbesar dan dipakai di banyak negara, termasuk Indonesia
  • Elon Musk belajar mengenai aeronautika, lalu mendirikan perusahaan ketiganya yaitu SpaceX yang memproduksi dan mengembangkan wahana antariksa. Meskipun Elon Musk tidak punya degree di aeronautical engineering, link berikut ini berisi kutipan singkat bagaimana Elon Musk belajar teknologi aeronautika: https://www.quora.com/Where-did-Elon-Musk-learn-aerospace-engineering-1
  • Elon Musk belajar teknik mesin dan elektronika, lalu berdiri Tesla Motors, produsen mobil bertenaga baterai yang sekarang udah dilengkapi dengan sistem autopilot
  • Elon Musk belajar mengenai renewable energy atau energi terbarukan, ditambah pengetahuannya tentang kelistrikan dalam mendirikan Tesla Motors, jadilah perusahaan Solar City yang bergerak dalam penyaluruan listrik dari tenaga surya
  • Elon Musk belajar transportasi, lalu mendirikan perusahaan bernama Hyperloop, mesin perjalanan subsonik berkecepatan tinggi yang rencana kebutuhan listriknya akan disuplai dari tenaga surya yang lebih ramah lingkungan dibandingkan bahan bakar fosil
  • Elon Musk belajar neurologi/sistem syaraf pada manusia, dan jadilah perusahaan Neuralink tahun 2016 yang begerak dalam bidang bioteknologi seperti pengembangan AI (artificial intelligence), karena untuk menciptakan AI yang bisa berpikir seperti manusia engineer juga harus memahami struktur dan fungsi otak (lobus, girus, dan sebagainya)
  • Elon Musk juga belajar ilmu "tidak pasti" yang bukan merupakan rumpun ilmu "eksak" yaitu ekonomi, dan mendapat gelar Bachelor of Science in Economics, di mana ilmu sosial seperti ini mungkin terkesan "absurd" dari kacamata ilmu eksakta atau orang-orang yang memiliki background ilmu eksak seperti fisika, kimia, kedokteran, teknik, dll.  Namun pada akhirnya Elon Musk berhasil menjadi CEO SpaceX, designer Tesla, ketua OpenAI, dan beberapa posisi lain di perusahaan yang didirikan Elon dengan total sekitar 9 perusahaan.
Beberapa yang gue tulis di atas mungkin hanya gambaran luar dan tidak sampai mendetail bagaimana Elon Musk belajar banyak hal dan banyak bidang, tapi mungkin kurang lebih seperti itu. 😂


Kedua, hindari lingkungan yang tidak progresif.
Kalau mau maju dan berubah, lu ga boleh berada di lingkungan yang cenderung tidak progresif. Selain itu, lu juga harus berani mengambil keputusan yang kadang tidak biasa atau tidak konvensional, mungkin terkesan keputusan "gila" seperti Elon Musk.

Contoh, Elon Musk adalah orang yang pertama mengambil keputusan memproduksi kendaraan bertenaga baterai full electric di saat perusahaan lain masih banyak yang belum berani untuk memproduksi kendaraan full electric, saat itu sebagian besar masih hybrid (bertenaga baterai dan minyak). Apakah berhasil atau tidak strategi dan keputusan yang diambil oleh Elon Musk hanya waktu yang bisa membuktikan.

Selain mobil full electric pertama pada masanya, menurut beberapa sumber gaya manajemen Tesla dalam memproduksi mobilnya juga tidak sama dengan perusahaan-perusahaan yang sudah ada. Misalnya Toyota yang merencanakan dengan matang dulu produknya baru kemudian dipasarkan jika sudah benar-benar sempurna. Menurut beberapa ahli, gaya manejemen Tesla cenderung seperti pabrik software, yang penting produksi dulu, dijual di pasar, masalah ada perbaikan/perubahan nanti gampang, bisa di update belakangan. Gayanya mirip industri di Silicon Valley seperti Microsoft, Apple, Google, dan perusahaan-perusahaan pengembang software yang lain. Contoh dari hal ini bisa dilihat dari software autopilot Tesla yang sudah beberapa kali update sampai versi software Autopilot 8.0. Kalau Toyota, sepertinya ga gitu modelnya (gue cuma mengutip dari pakar).

Keputusan out of the box dari Elon Musk yang lain misalnya sudah memasarkan fitur Full Self-Driving (FSD atau autopilot level 5) saat perusahaan mobil yang lain masih menjadikan full auopilot sebagai konsep. Setau gue, selain Tesla baru ada beberapa industri otomotif yang "berani" menjual autonomous driving ke pasar, dan Tesla adalah salah satu pioneer dalam menggunakan AI/robot sebagai asisten mengemudi di kendaraannya. CMIIW kalau ada referensi lain boleh dimasukin di komentar.

Armada taksi dari perusahaan AutoX yang memiliki fitur autopilot/self driving mode di China,
dengan kendaraan yang dilengkapi kamera, sensor, radar, dan GPS untuk kontrol mobil.

Kalau berada di lingkungan yang tidak progresif, biasanya lu ga akan kemana-mana dan ga akan berubah, mentok, paling gitu gitu doang. Masih ingat perdebatan "internet cepat untuk apa" tahun 2014? Sekitar 5 tahun kemudian, sekitar Desember 2019 pada akhirnya negara yang dulu memperdebatkan kecepatan internet untuk apa, ditinggal oleh China yang berhasil melakukan operasi/bedah jarak jauh dengan bantuan robot di mana operator/dokter bedah berada terpisah 3000 km dengan pasien antara Qingdao (Provinsi Shandong) dan Anshun (Provinsi Guizhou), melalui jaringan wireless 5G dengan delay sekitar 0,24 milisecond. Jurnal mengenai prosedur bedah atau operasi tersebut bisa diakses di website penyedia jurnal Springer Link ini: https://link.springer.com/article/10.1007/s00464-020-07823-x.

Sementara itu pada tahun yang sama di negara tadi jaringan 4G belum merata, dan ada komentar pengguna internet yang mengatakan "sekolah online di kota X bayar kuota cuma membeli buffer" karena video dan audio sering lag saat videocall. Bisa dibandingkan mana yang lebih progresif dan mau berubah. Selain itu, China juga sudah menerapkan zona kendaraan autopilot bertenaga baterai termasuk bus dan taksi dengan jaringan 5G untuk mengoperasikan kendaraannya dari satelit dan sistem navigasi (semacam GPS) yang dimiliki China. Dalam beberapa tahun terkahir, China sudah banyak meluncurkan satelit dan memiliki semacam jaringan peta/maps tersendiri yang mirip dengan Google Maps bernama Beidou, detailnya bisa diakses di Google. Singapura juga mulai menyusul dengan beberapa tes autonomous bus atau bus dengan autopilot di Jurong Island. Jadi, mau berubah adalah pilihan. Kalau ga mau yaudah lu kaya gitu aja.

Sekian dari gue, kalau ada tambahan/data yang lebih baru bisa ditulis di kolom komentar.

Tidak ada komentar

Diberdayakan oleh Blogger.